berawal dari masa lalu
dalam bingkai OM KARA
hampir selesai
teduh Jyotir
pantulkan cinta
meski mengandung tanya
sepetik senyum
terjalin kasih
seperti bergairahnya musim
membakar kerinduanku
sunyi tanpa kata
tak terpisahkan denganMu
Denpasar, 23 Nopember 1997
Selasa, 25 November 2014
KEPARAT
bulan digurat kelam, mengigil daun daun
tanda kerinduan alam membeku pedasnya karang
pekik camar mengarak embun
Senggigi berlari mendekap matahari
lentera nelayan
meliuk bak penari menoreh nadi
Ampenan, 18 Mei 2003
tanda kerinduan alam membeku pedasnya karang
pekik camar mengarak embun
Senggigi berlari mendekap matahari
lentera nelayan
meliuk bak penari menoreh nadi
Ampenan, 18 Mei 2003
PANTAI SENGGIGI
mengingatkanku pada desah burung-burung kecil
kepak sayapnya terdengar dalam
mengurai jiwa
debur ombak penuh kepiluan
dipejam malam mengujar doa, mengurai puja
pada celoteh nelayan
kutitipkan pekat rindu roh
sebelum penjamuan
Mataram, 23 Maret 2003
kepak sayapnya terdengar dalam
mengurai jiwa
debur ombak penuh kepiluan
dipejam malam mengujar doa, mengurai puja
pada celoteh nelayan
kutitipkan pekat rindu roh
sebelum penjamuan
Mataram, 23 Maret 2003
Sanggar Minum Kopi
aku demikian rindu
pada malam malam dimana
serumpun rasa yang pernah satu
seikat nafas yang pernah padu
kala pertama ku mengenalnya
aku baru saja lahir dalam dunia ini
dalam rengkuhmu dalam rangkulnya
aku merangkak menapak jejak
sampai pada akhirnya aku mengenal dunia ini
dan menikmati hidup penuh warna
semuanya mulai dari dirimu
aku rindu padamu
disanggar ini aku bisa ketawa
ditempat ini aku bisa berkarya
dipangkuanmu aku bisa terlelap dalam karya
aku rindu padamu
setiap kali aku meneguk cairan warna pekat
dalam gelas yang pernah menyatukan warna-warna jiwa
menjadi satu sajak penuh makna
disanggar ini aku menatap cahaya
disanggar ini pula memahami rasa
disanggar ini aku memulai karya
sanggar minum kopi
itulah jiwa yang mengenalkan aku
bagaimana mengungkapkan rasa dan asa
dalam adonan kata
salamku untuk setiap jiwa
sahabat, saudara dan kakak
pemberi inspirasi dan jiwa pada setiap
kata...
Denpasar, 22 Maret 2011
Made Adiptayasa
pada malam malam dimana
serumpun rasa yang pernah satu
seikat nafas yang pernah padu
kala pertama ku mengenalnya
aku baru saja lahir dalam dunia ini
dalam rengkuhmu dalam rangkulnya
aku merangkak menapak jejak
sampai pada akhirnya aku mengenal dunia ini
dan menikmati hidup penuh warna
semuanya mulai dari dirimu
aku rindu padamu
disanggar ini aku bisa ketawa
ditempat ini aku bisa berkarya
dipangkuanmu aku bisa terlelap dalam karya
aku rindu padamu
setiap kali aku meneguk cairan warna pekat
dalam gelas yang pernah menyatukan warna-warna jiwa
menjadi satu sajak penuh makna
disanggar ini aku menatap cahaya
disanggar ini pula memahami rasa
disanggar ini aku memulai karya
sanggar minum kopi
itulah jiwa yang mengenalkan aku
bagaimana mengungkapkan rasa dan asa
dalam adonan kata
salamku untuk setiap jiwa
sahabat, saudara dan kakak
pemberi inspirasi dan jiwa pada setiap
kata...
Denpasar, 22 Maret 2011
Made Adiptayasa
Father
Oh, Father
you are the ruler of the three world
when gives power to the sun
to shine on our live
your holly message is full of love
In the flood of longing of your worshipper
Oh, Farther
you are very enticing heart
come into being bathed in light
wrap of the spirit of child's confusion
your smile is sweet as honey
silent in our mind
your light is like the shining eyes of Padma
hypnotized the world
Denpasar. 1999
you are the ruler of the three world
when gives power to the sun
to shine on our live
your holly message is full of love
In the flood of longing of your worshipper
Oh, Farther
you are very enticing heart
come into being bathed in light
wrap of the spirit of child's confusion
your smile is sweet as honey
silent in our mind
your light is like the shining eyes of Padma
hypnotized the world
Denpasar. 1999
Breath of Journey
Week up to early
to walk be slowly
find to the sun
to arrive to his house
start your lifes
with loves
with services
with his name in your mouth
with his pace in your heart, too
and then,
turn on to walk be slowly
have nice your lifes
together with him
in his house
Denpasar, 1999
to walk be slowly
find to the sun
to arrive to his house
start your lifes
with loves
with services
with his name in your mouth
with his pace in your heart, too
and then,
turn on to walk be slowly
have nice your lifes
together with him
in his house
Denpasar, 1999
Be Light
Depent your heart within
as sacrifice to be offeron the his altar
surrender your life within
by love and love
by serve and serve
to all his creation in the world
and then you will arrive in the God House
always come and bring
love and serve
in your life within
and be light, light and light within.
Denpasar, 1999
Be Flowers in the God Garden
serve and pray full with love
get and give to all his creation in the worldthat is the way to be flower in his garden
please prepare your self
don't ever wait
don't ever waste your times
get your future in the God garden
fly and flying
burn and burning
love on the services
lets to be all in the lights
Light a flower in the his garden.
Denpasar 1999
WARNA RINDUKU DIMATAMU
kepadamu,
cerita ini kupaparkan
kepadamu,
asa ini kutetapkan
kepadamu,
hati ini membiru jadi batu
Denpasar, 16 September 2006
cerita ini kupaparkan
kepadamu,
asa ini kutetapkan
kepadamu,
hati ini membiru jadi batu
Denpasar, 16 September 2006
Senin, 24 November 2014
Lawangan Agung (4)
akhirnya kutemukan jua
sejatinya pintu rumahMu
begitu langkah menapak hingga digerbang
deritnya terngiang hingga ke Ulun Tanjung
getarnya menguncang dunia
tanpa tersadar ku bergumam
" lokah samastah sukhinoh bhavantuh,
lokah samastah sukhinoh bhavantuh,
lokah samastah sukhinoh bhavantuh "
tumpahlah sudah kerinduan
penuh suka cita
dipenjamuanMu
Kayuputih, 2 Februari 2014
sejatinya pintu rumahMu
begitu langkah menapak hingga digerbang
deritnya terngiang hingga ke Ulun Tanjung
getarnya menguncang dunia
tanpa tersadar ku bergumam
" lokah samastah sukhinoh bhavantuh,
lokah samastah sukhinoh bhavantuh,
lokah samastah sukhinoh bhavantuh "
tumpahlah sudah kerinduan
penuh suka cita
dipenjamuanMu
Kayuputih, 2 Februari 2014
Gunung Kutul (3)
saat ku ucap OM Swastyastu
desir menyejukkan menyapa
terasa diubun-ubun hingga ke sumsum
langkah yang tadinya berat, menjadi ringan
langkah ini berakhir diperaduanMu
dendang nadi mengirama
seiring wangi dupa menyingkap hati
pranawa yang terucap, gaungnya merindu kalbu
dibawah rindangnya kalpataru
Pucaksari, 30 Januari 2014
desir menyejukkan menyapa
terasa diubun-ubun hingga ke sumsum
langkah yang tadinya berat, menjadi ringan
langkah ini berakhir diperaduanMu
dendang nadi mengirama
seiring wangi dupa menyingkap hati
pranawa yang terucap, gaungnya merindu kalbu
dibawah rindangnya kalpataru
Pucaksari, 30 Januari 2014
Ratu Patih (2)
karenaMu ku bersenyawa pada alam
dalam kendaliMu, hanya dalam kendaliMu
terikat tujuanMu
semua sudah tersurat
semua sudah tersurat
sejak tujuh ratus tahun yang lalu
tiap nafasku terikat padaMu
laju langkahku pada apa yang hendak Engkau tuju
aku tak tahu
aku tak tahu
hanya dalam kendaliMu, dalam kendaliMu
laju langkahku pada apa yang kendak Engkau tuju
karenaMu ku bersenyawa pada alam
semua telah tersurat
terikat tujuanMu
Bongancina, 27 Januari 2014
dalam kendaliMu, hanya dalam kendaliMu
terikat tujuanMu
semua sudah tersurat
semua sudah tersurat
sejak tujuh ratus tahun yang lalu
tiap nafasku terikat padaMu
laju langkahku pada apa yang hendak Engkau tuju
aku tak tahu
aku tak tahu
hanya dalam kendaliMu, dalam kendaliMu
laju langkahku pada apa yang kendak Engkau tuju
karenaMu ku bersenyawa pada alam
semua telah tersurat
terikat tujuanMu
Bongancina, 27 Januari 2014
Goa Tirtha (1)
waktu kian melarut malam
decak ombak Rambut Siwi
memecah gulita
decak ombak Rambut Siwi
memecah gulita
desau angin terus menghenyak
percikan kilat merah menyambar ufuk
mewarnai keheningan
kutatap lautan lepas yang kian tenggelam
tak lagi kulihat memeluk biduk nelayan
hingga keheningan melarut haru rindu
diperapianMu
Hening di Pura Goa Tirtha, Rambut Siwi,
31 Desember 2013 - 1 Januari 2014
Jam 00.01Wita
(c) Made Adiptayasa
percikan kilat merah menyambar ufuk
mewarnai keheningan
kutatap lautan lepas yang kian tenggelam
tak lagi kulihat memeluk biduk nelayan
hingga keheningan melarut haru rindu
diperapianMu
Hening di Pura Goa Tirtha, Rambut Siwi,
31 Desember 2013 - 1 Januari 2014
Jam 00.01Wita
(c) Made Adiptayasa
Kamis, 20 November 2014
virus jiwa
tertelan kemarau dimusim dingin
VIRUS JIWA
cintaku padamu hanya sebatas angin
bertabur ketidak mengertian jiwa pada alam
surat cinta yang pernah terkirimkan telah terkoyak badai tadi pagi
kerinduanku padamu telah kutumpahkan penuh dalam tiap tetes embun pagi yang membasuh bukit candikuning
kuingin melangkah kaki mengayuh rindu yang mendayu
tapi ku tak kuasa menahan bekunya angin yang mendekap kakiku
ku tak mampu lagi menahan deru rindu ini kala ku tahu disana keciap burung-burung seakan berpesta menikmati indahnya danau beratan
aku rindu kamu kekasihku aku rindu pada titik embun yang membalur dedaunan pohon dan perdu bebukitan
aku rindu nyanyian pedagang sayur dan jagung rebus
aku rindu nikmatnya menghirup secangkir kopi dikedai itu
aku rindu padamu kekasihku aku rindu......................
tidakkah engkau juga merasakan deru rinduku menggebu, kekasihku?
kini semuanya telah berlalu bersama debu-debu yang beku membatu dihatiku
Angantaka, 24 Februari 2008
Pk. 08.00
VIRUS JIWA
cintaku padamu hanya sebatas angin
bertabur ketidak mengertian jiwa pada alam
surat cinta yang pernah terkirimkan telah terkoyak badai tadi pagi
kerinduanku padamu telah kutumpahkan penuh dalam tiap tetes embun pagi yang membasuh bukit candikuning
kuingin melangkah kaki mengayuh rindu yang mendayu
tapi ku tak kuasa menahan bekunya angin yang mendekap kakiku
ku tak mampu lagi menahan deru rindu ini kala ku tahu disana keciap burung-burung seakan berpesta menikmati indahnya danau beratan
aku rindu kamu kekasihku aku rindu pada titik embun yang membalur dedaunan pohon dan perdu bebukitan
aku rindu nyanyian pedagang sayur dan jagung rebus
aku rindu nikmatnya menghirup secangkir kopi dikedai itu
aku rindu padamu kekasihku aku rindu......................
tidakkah engkau juga merasakan deru rinduku menggebu, kekasihku?
kini semuanya telah berlalu bersama debu-debu yang beku membatu dihatiku
Angantaka, 24 Februari 2008
Pk. 08.00
Langganan:
Postingan (Atom)